Home / Kumpulan Makalah / PENELITIAN SASTRA DALAM PENDEKATAN SEMIOTIK

PENELITIAN SASTRA DALAM PENDEKATAN SEMIOTIK

Pocket
Bookmark this on Google Bookmarks
Share on Facebook
Share on LinkedIn
LINEで送る

0%

User Rating: 5 ( 1 votes)

PENELITIAN SASTRA DALAM PENDEKATAN SEMIOTIK

pendahuluankumpulan
Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita sering melihat dan menemukan berbagai hal dari yang terlihat kasat mata seperti benda dan warna; hingga hal-hal yang tidak begitu tampak jelas seperti gerak-gerik dan sikap orang lain. Mungkin hal-hal itu bukan lagi hal yang asing kita temui sehingga kita tidak terlalu memikirkan makna di baliknya, namun tahukah Anda kalau hal-hal tersebut bisa saja memiliki tanda dan arti tersendiri?
Seperti halnya juga karya sastra yang dimana para ilmuan mengartikannya sebagai penuangan ide – ide yang diimajinasikan menjadi teks yang memiliki nilai–nilai etika dan estetika. Sehingga, orang yang menikmati karya sastra akan merasa berada dalam lingkup kehidupan yang diciptakan karya sastra tersebut. Pengarang menyampaikan permasalahan dan ide – ide melalui media bahasa dan tanda – tanda lain. Setiap pengarang memiliki konvensi – konvensi (etika) yang berbeda dalam proses kepengarangannya. Ada pengarang yang menitikberatkan simbolisasi pada tokoh, penokohan, atau alur cerita tersebut, dan ada juga yang memberikan penekanan simbolisasi pada judul karya sastra tersebut.
Dalam sastra, semiotik menjadi satu istilah untuk pendekatan. Pendekatan semiotik adalah pendekatan yang memandangan bahwa semua yang terdapat dalam karya sastra merupakan lambang-lambang atau kode-kode yang mempunyai arti/makna tertentu. Arti/makna itu berkaitan dengan sistem yang dianut, oleh karena itu pengetahuan tentang kehidupan masyarakat tidak dapat diabaikan dalam menganalisis karya sastra dengan pendekatan semiotik ini.
Analisis semiotik  merupakan metode menganalisis karya sastra sebagai sebuah struktur, pengkajian melalui tanda dan simbolisasi yang terdapat dalam karya sastra. Dalam analisis semiotik, karya sastra dipandang sebagai proses penuangan imajinasi pengarang. Sehingga, dalam analisis semiotik karya sastra dikaitkan dengan pengarang, realita, pembaca dan hal – hal yang memiliki keterkaitan dengan karya sastra tersebut.
Dalam analisis, Jan Mukarovsky memberikan perumusan tentang aplikasi model semiotik, yaitu :
Menjelaskan kaitan antara pengarang, realitas, karya sastra dan pembaca.
Menjelaskan karya sastra sebagai sebuah struktur, berdasarkan unsur – unsur atau elemen yang membentuknya.(Sukada, 1987:44)
Dalam analisis semiotik, seseorang dapat memberikan makna yang berbeda. Hal ini dikarenakan dengan pengalaman dan pengetahuan orang tersebut tentang tanda dan konvensi yang berlaku. Misalnya saja kata “lari” yang ada dalam konteks yang sama dapat diberikan makna sebagai kemajuan yang cepat atau revolusi, namun ada juga yang memberikan makna perjuangan, tak bertanggung jawab, atau dapat pula makna lainnya sesuai dengan konteks karya sastra tersebut.

Pengertian dan kemunculan teori semiotik dan sastra
Semiotik (semiotics) berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang berarti tanda atau sign. Tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif, mampu menggantikan suatu yang lain (stand for something else) yang dapat dipikirkan atau dibayangkan (Broadbent, 1980). Semiotik adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda atau teori tentang pemberian tanda.
Sejarahnya Semiotik adalah sains yang mengkaji sistem perlambangan yang telah bermula sejak zaman Plato dan Aristoteles. Kedua tokoh tersebut telah memulakan sebuah teori bahasa dan makna. pada abad ke 17, pendekatan semiotik mulai mendapat perhatian John Locke, seorang ahli falsafah Inggris untuk menjelaskan doktrin perlambangan pada waktu itu. Kemudin kemunculan pendekatan semiotik beransur-ansur mendapat perhatian sehingga ia mulai mendapat tempat di kalangan tokoh-tokoh yang terkemuka seperti Ferdinand de Saussure, seorang ahli linguistik Eropa Saussure menyebut ilmu yang dikembangkan dengan semiology(semilogy). dan Charles Sander Peirce, seorang ahli falsafah Amerika pada abad ke 19. Keduanya telah merintis jalan untuk mengkaji dan menilai kesusasteraan melalui pendekatan semiotik.
Seperti yang dikatakan Berger juga bahwa Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander Peirce (1839-1914) adalah tokoh yang telah mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan tidak mengenal satu sama lain. Saussure adalah linguistic dimana penerusnya yang berpengaruh antara lain Louis Hjemslev (1899-1965), sedangkan Peirce filsafat dan penerusnya antara lain adalah Charles Morris (1902-1979). Namun disamping tokoh-tokoh tersebut, perlu disebutkan pula tokoh yang berpengaaruh pada perkembangan teori semiotik, yaitu Roland Barthes (1915-1980) dan Umberto Eco (1932-)
Sedangkan sastra atau dalam bahasa Indonesia disebut juga kesusastraan adalah merupakan suatu tulisan atau kata-kata yang mempunyai nilai seni dan budaya serta keindahan dengan makna tertentu.
Sastra (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘Sastra’, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
Sastra dibagi lagi menjadi 2 yaitu Prosa dan Puisi, Prosa adalah karya sastra yang tidak terikat sedangkan Puisi adalah karya sastra yang terikat dengan kaidah dan aturan tertentu. Contoh karya Sastra Puisi yaitu Puisi, Pantun,  dan Syair sedangkan contoh karya sastra Prosa yaitu Novel, Cerita/Cerpen, dan Drama.
Lotman dalam Kinayati Djojosuroto (2005:71) menyebutkan bahwa bahasa adalah sistem tanda primer untuk komunikasi, berpikir dan interpretasi. Dan sastra merupakan tanda sekunder, merumuskan pemikiran dalam bentuk tanda bahasa secara artistik. Karya sastra menggunakan bahasa sebagai medium, dan medium itu sendiri merupakan tanda dalam karya sastra. Dengan kata lain bahasa sebagai medium karya sastra merupakan sistem semiotik atau ketandaan yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti, yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian) masyarakat.
Dan semiotik sastra adalah ilmu yang mengkaji tentang “tanda”, dan menganggap karya sastra adalah sebagai suatu sistem yang padu (di dalam) dan memiliki konvensi – konvensi (di luar) sebagai sistem. Pengarang melakukan komunikasi dengan dirinya, karya sastra dan pembaca. Karya sastra secara jelas memiliki tanda yang disampaikan kepada pembaca untuk dapat dipahami makna karya sastra tersebut. Bahasa adalah alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi yang disertai dengan mimik, dan ekspresi serta intonasi dapat menentukan makna komunikasi tersebut. Jadi, analisis semiotika atau disebut semiotik saja dapat dikatakan sebagai metode pengkajian analisis “tanda” yang terdapat dalam karya sastra.
Karya sastra sebagai tanda, ditandai oleh beberapa komponen yang sekaligus membentuk tanda itu. Komponen tersebut adalah pencipta, karya sastra, pembaca, kenyataan dalam semesta, sistem bahasa, konvensi sastra, variasi bentuk karya sastra dan nilai keindahan. Hubungan masing-masing komponen dapat dijelaskan sebagai berikut:
Karya sastra diciptakan bukan dari kekosongan, tetapi oleh seorang penyair yang tidak dapat terlepas dari lingkungannya. Dalam penciptaan karya sastra, penyair diikat oleh sistem bahasa yang digunakan masyarakat. Penyair akan selalu berada dalam lingkungan antara sistem bahasa, konvensi, sastra variabel bentuk sastra dan pandangannya tentang nilai keindahan.
Pembaca juga dipengaruhi oleh pandangan umum tentang nilai keindahan, sistem bahasa, konvensi sastra dan variasi bentuk sastra.
Antara karya sastra dengan kenyataan semesta ada kaitan yang bersifat acuan.
Penerimaan pembaca terhadap karya sastra tidaklah tetap sehingga diperlukan perhatin khusus dalam rangka memahami karya sastra dan menempatkannya dalam deretan sejarah.

Konvensi – Konvensi Untuk Menelaah Karya Sastra Dengan Pendekatan Semiotik

Dikatakan oleh preminger dalam Pradopo (2010:109) bahwa studi semiotik sastra adalah usaha untuk menganalisis sebuah sistem tanda-tanda. Oleh karena itu peneliti harus bisa menentukan konvensi-konvensi tambahan apa yang memungkinkan karya sastra bisa mempunyai makna yang lebih luas. Karya satra merupakan sebuah sistem yang mempunyai konvensi-konvensi sendiri. Dalam genre puisi khususnya, ,mempunyai ragam: puisi lirik, syair, pantun, sonata, balada, dan sebagainya. Seperti contohnya, seperti genre puisi merupakan sistem tanda, yang mempunyai satuan-satuan tanda (yang minimal) seperi kosa kata, bahasa kiasan, diantaranya personifikasi, simile, metafora, dan metomini. Tanda-tanda itu mempunyai makna berdasarkan konvensi-konvensi (dalam) sastra. Diantara konvensi-konvensi kebahasaan yang meliputi : bahasa kiasan, saran retorika, dan gaya bahasa pada umumnya. Disamping itu ada konvensi ambiguitas, Kontradiksi dan nonsense. Adapula konvensi visual tersebut diantaranya baris sajak, sajak (rima), tipografi, homoloque dan lainnya. Konvensi kepuitisan visual sajak tersebut dalam linguistik tidak mempunyai arti, tetapi dalam sastra mempunyai dan menciptakan arti.
Puisi yang baik lazimnya menawarkan serangkaian makna kepada pembacanya. Untuk menangkap  rangkaian makna itu, tentu saja pembaca perlu masuk ke dalamnya dan mencoba memberi penafsiran terhadapnya. Langkah dasar yang dapat dilakukan untuk pemahaman itu adalah ikhtiar untuk mencari tahu makna teks. Sebagian sebuah teks, puisi menyodorkan makna eksplisit dapat kita tarik dari per-wujudan teks itu sendiri; pilihan katannya, Rangkaian sintaksisnya, dan makna semantisnya. Pilihan kata atau diksi menyodorkan kekayaan nuansa makna; rangkaian sintaksis berhubugan dengan maksud yang hendak disampaikan, logika yang digunakan bekaitan dengan pemikiran dan ekspresi yang ditawarkan; makna semantik berkaitan dengan kedalaman makna setiap kata dan acuan-acuan yang disarankannya. Adapun makna eksplisit berkaitan dengan interpretasi dan makna yang menyertai dibelakang puisi yang bersangkutan.
Salah satu tokoh besar semiotik yaitu Peirce mengadakan klasifikasi tanda-tanda yang dikaitkan dengan ground (sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi) diklasifikasikannya menjadi:
Qualisign
Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda, misalnya kata-kata kasar, keras, lemah, lembut dan merdu.

Sinsign
Adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda, misalnya kata kabur atau keruh yang ada pada urutan kata air sungai keruh yang menandakan bahwa ada hujan di hulu sungai.

Legisign
Legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda, misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia.
Sedangkan berdasarkan objeknya, Pierce membagi tanda sebagai berikut:
Ikon
Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan untuk alamiah. Atau dengan kata lain, ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan, misalnya potret dan peta.

Indeks
Indek adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kasual atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Contoh yang paling jelas ialah asap sebagai tanda adanya api. Dan contoh dalam sastra yaitu gambaran suasana muram yang biasanya merupakan indeks bahwa tokoh sedang bersusah hati.

Simbol
Simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya, hubungan diantaranya bersifat arbiter, hubungan berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat.
Ada tiga macam simbol yaitu:
Simbol pribadi, misalnya seorang menangis bila mendengar sebuah lagu gembira, karena lagu itu telah menjadi lambang pribadi ketika orang yang dicintainya meninggal dunia.
Simbol pemufakatan, misalnya burung garuda/pancasila, bintang = ketuhanan, padi dan kapas = keadilan sosial.
Simbol universal, misalnya bunga adalah lambang cinta, dan laut adalah lambang kehidupan yang dinamis.
Dalam teori ini dapat ditemukan bahwa ada keterkaitan atau hubungan antara tanda-tanda yang satu dengan yang lainnya, sehingga banyak mengandung makna dalam tanda-tanda suatu objek yang diteliti. Teori ini dapat menguraikan makna yang terdapat dalam tanda suatu objek, baik itu dari ikon, indeks maupun simbol.
Sedangkan tanda-tanda yang berdasarkan interpretant, Pierce membagi tanda sebagai berikut:

Rheme
Rheme adalah tanda yang memungkinkan ditafsirkan dalam pemaknaan yang berbeda-beda. Misalnya saja orang yang matanya merah, maka bisa jadi dia sedang mengantuk, atau mungkin sakit mata, iritasi, bisa pula ia baru bangun tidur atau bahkan bisa jadi dia sedang mabuk.

Dicent sign atau dicisign
Dicent sign atau dicisign adalah tanda yang sesuai dengan fakta dan kenyataannya. Misalnya saja di suatu jalan kampung banyak terdapat anak-anak maka di jalan tersebut dipasang rambu lalu lintas hati-hati banyak anak. Contoh lain misalnya jalan yang rawan kecelakaan, maka dipasang rambu hati-hati rawan kecelakaan.

Argument
Argument adalah tanda yang berisi alasan tentang sesuatu hal. Misalnya tanda larangan merokok di SPBU, hal tersebut dikarenakan SPBU merupakan tempat yang mudah terbakar.

KESIMPULAN
Semiotika (kadang juga disebut semiologi) adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign). Dalam kehidupan sehari-hari tanda tentunya hadir selalu dalam bentuk yang beraneka ragam; bisa berwujud simbol, lambang, kode, ikon, isyarat, sinyal, dsb. Bahkan segala aspek dalam kehidupan ini penuh dengan tanda-tanda. Dan dengan sarana tandalah manusia dapat berfikir, tanpa tanda kita kesulitan dalam berkomunikasi.
Mempelajari semiotika sama dengan kita mempelajari tentang berbagai tanda. Cara kita berpakaian, apa yang kita makan, dan cara kita bersosialisasi sebetulnya juga mengomunikasikan hal-hal mengenai diri kita, dan dengan begitu, dapat kita pelajari sebagai tanda.
Tanda itu sebenarnya bertebaran di mana-mana; di sekujur tubuh kita: ketika kita berkata, ketika kita tersenyum, ketika kita menangis, ketika kita cemberut, menulis karya sastra dan sebagainya. Dan dibutuhkannya ilmu khusus dalam memahaminya yang diantaranya yaitu ilmu semiotik.

DAFTAR PUSTAKA
Van Zoest, Aart, 1993. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang kita Lakukan Dengannya . Jakarta: Yayasan Sumber Agung.
H. Hoed, Benny.2014. Semiotik & Dinamika Sosial. Depok : Komunitas Bambu.
Teew, A., Khasanah Sastra Indonesia (Ja-karta: Balai Pustaka, 1984)
E.K.M. Masinambow, 2001. Semiotik: mengkaji tanda dalam artifak. Jakarta: Balai Pustaka.
Tinarbuko, Sumbo. 2009. Semiotika Komunikasi Visual (Edisi Revisi). Yogyakarta: Jalasutra.

About terune

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: